Evaluasi Kekalahan MU dari Southampton

Akses Aman Agen Bola Online Resmi Taruhan Uang Asli Terpercaya Indonesia - QQ1x2.com

Evaluasi Kekalahan MU dari Southampton

Kekalahan MU dari Southampton jelas sangat menyesakkan dada. Padahal mereka tampil sangat dominan dalam pertandingan tersebut. Yang lebih gawat lagi, kekalahan itu dialami di kandang mereka sendiri. Gol satu-satunya yang dicetak oleh Charlie Austin juga diciptakan tiga menit sebelum pertandingan berakhir. Dominasi MU Kekalahan itu sekaligus membalikkan harapan yang terlanjut timbul setelah MU tampi memuaskan dengan mengalahkan Liverpool pada jadwal sebelumnya. Kemenangan di kandang lawan itu ternyata tidak menjamin bahwa mereka bisa bermain lebih bagus di kandang sendiri. Persentase pertandingan antara MU dan Southampton itu sendiri sangat meyakinkan. MU unggul dengan dominasi bola sampai 56 persen. Tapi penguasaan bola yang sangat dominan itu akhirnya berujung pada hasil sia-sia. Ada apa dengan MU? Salah Strategi Lagi-lagi Van Gaal dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan MU kali ini. Namun fakta yang tak bisa dielakkan adalah pilihan strategi saat menjamu Southampton. Ia tidak biasanya memasang formasi 3-4-1-2. Secara teori, formasi ini dibentuk dengan tujuan menciptakan serangan-serangan efektif dari bagian sayap. Untuk itulah ia menempatkan Cameron Borthwick-Jackson dan Jesse Lingard. Sayangnya, duet tersebut ternyata tak bisa bekerja secara efektif dan bahkan lebih sering nampak canggung di posisi masing-masing. Lihat saja pada peran Jackson yang sangat minim dalam mengeksplorasi bagian sayap. Biasanya, ia dipasang sebagai pemain bek kiri. Namun ketika ditempatkan di bagian sayap, ia justru tak bisa tampil optimal. Cuma dua umpan yang benar-benar masuk ke area berbahaya lawan. Jangan lupakan juga bahwa ia saat ini masih berusia muda sehingga cukup sulit untuk menyesuaikan dalam peran yang sangat vital di atas lapangan. Sementara itu, posisi Lingard justru terlihat lebih ke belakang yang notabene membuatnya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Posisi sejajar yang dipercayakan kepada Martial ternyata tak bisa memberikan asupan yang bagus bagi Rooney di depan. Ia lebih sering gagal dalam menyalurkan umpan-umpan bagus ke sang kapten. Ironisnya, Rooney sama sekali tak bisa melepaskan tembakan saat pertandingan di kandang sendiri itu. Namun apakah kemenangan yang dipetik oleh Southampton kemarin hanya disebabkan oleh kurang maksimalnya MU? Faktanya, barisan belakang Southampton ternyata juga sangat tangguh. Salah satu pemain yang menyita perhatian ialah Virgil van Dijk. Pemain berkebangsaan Belanda ini tampil sangat gemilang dengan rekor menghalau serangan dan bola-bola berbahaya dari lawan. Rasio persentuhannya dengan bola di atas lapangan juga sangat besar yaitu sebanyak 45 kali. MU juga sangat sering keteteran saat menghadapi bola-bola mati. Hal itu sangat terlihat ketika mereka beberapa kali nampak kelabakan dan kehilangan arah saat menghadapi set piece dari lawan. Gol yang diciptakan oleh Austin juga berasal dari kesulitan para pemain MU dalam menghadapi set piece. Ia sama sekali tak mendapatkan pengawalan dari para pemain MU sehingga dengan mudahnya bisa menjeblos gawang lewat sundulan. Lapangan tengah MU nampak hambar dan monoton. Barisan sayap yang seharusnya bisa membangun koordinasi yang baik tak bisa diharapkan. Parahnya lagi, bagian tengah lapangan juga tak bisa mencapai hasil yang lebih bagus. Fellani sama sekali tak bisa diandalkan dalam pertandingan tersebut. Ia pun akhirnya cuma dimainkan selama satu babak dan digantikan oleh Juan Mata. Masuknya Mata di lapangan tengah sebenarnya memberikan perubahan yang cukup berarti. Tapi duet antara Rooney dan Martial tak bisa mengimbangi pergerakannya. Mereka berdua lebih sering ikut mundur ke belakang sehingga menyulitkan eksplorasi serangan. Faktor terakhir tentu saja adalah peran Van Gaal. Nampak bahwa sebagian besar pendukung MU sangat marah ketika pertandingan usai. Lambaian tangan Van Gaal dicueki dan sama sekali tak menggubris sang manajer. Memang, MU sangat nampak hati-hati selama melawan Southampton. Beberapa pemain penting seperti Depay dan Pereira justru dicadangkan. Formasi yang terlalu kaku dan melebar itu pun tak segera diubah meski sudah nampak gagal di babak pertama. Kini, tinggal menunggu nasib Van Gaal yang semakin berada di ujung tanduk dengan prestasi memburuk MU sekarang ini

Kekalahan MU dari Southampton jelas sangat menyesakkan dada. Padahal mereka tampil sangat dominan dalam pertandingan tersebut. Yang lebih gawat lagi, kekalahan itu dialami di kandang mereka sendiri. Gol satu-satunya yang dicetak oleh Charlie Austin juga diciptakan tiga menit sebelum pertandingan berakhir.

Dominasi MU

Kekalahan itu sekaligus membalikkan harapan yang terlanjut timbul setelah MU tampi memuaskan dengan mengalahkan Liverpool pada jadwal sebelumnya. Kemenangan di kandang lawan itu ternyata tidak menjamin bahwa mereka bisa bermain lebih bagus di kandang sendiri.

Persentase pertandingan antara MU dan Southampton itu sendiri sangat meyakinkan. MU unggul dengan dominasi bola sampai 56 persen. Tapi penguasaan bola yang sangat dominan itu akhirnya berujung pada hasil sia-sia. Ada apa dengan MU?

Salah Strategi

Lagi-lagi Van Gaal dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan MU kali ini. Namun fakta yang tak bisa dielakkan adalah pilihan strategi saat menjamu Southampton. Ia tidak biasanya memasang formasi 3-4-1-2. Secara teori, formasi ini dibentuk dengan tujuan menciptakan serangan-serangan efektif dari bagian sayap. Untuk itulah ia menempatkan Cameron Borthwick-Jackson dan Jesse Lingard. Sayangnya, duet tersebut ternyata tak bisa bekerja secara efektif dan bahkan lebih sering nampak canggung di posisi masing-masing.

Lihat saja pada peran Jackson yang sangat minim dalam mengeksplorasi bagian sayap. Biasanya, ia dipasang sebagai pemain bek kiri. Namun ketika ditempatkan di bagian sayap, ia justru tak bisa tampil optimal. Cuma dua umpan yang benar-benar masuk ke area berbahaya lawan. Jangan lupakan juga bahwa ia saat ini masih berusia muda sehingga cukup sulit untuk menyesuaikan dalam peran yang sangat vital di atas lapangan. Sementara itu, posisi Lingard justru terlihat lebih ke belakang yang notabene membuatnya mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri.

Posisi sejajar yang dipercayakan kepada Martial ternyata tak bisa memberikan asupan yang bagus bagi Rooney di depan. Ia lebih sering gagal dalam menyalurkan umpan-umpan bagus ke sang kapten. Ironisnya, Rooney sama sekali tak bisa melepaskan tembakan saat pertandingan di kandang sendiri itu.

Namun apakah kemenangan yang dipetik oleh Southampton kemarin hanya disebabkan oleh kurang maksimalnya MU? Faktanya, barisan belakang Southampton ternyata juga sangat tangguh. Salah satu pemain yang menyita perhatian ialah Virgil van Dijk. Pemain berkebangsaan Belanda ini tampil sangat gemilang dengan rekor menghalau serangan dan bola-bola berbahaya dari lawan. Rasio persentuhannya dengan bola di atas lapangan juga sangat besar yaitu sebanyak 45 kali.

MU juga sangat sering keteteran saat menghadapi bola-bola mati. Hal itu sangat terlihat ketika mereka beberapa kali nampak kelabakan dan kehilangan arah saat menghadapi set piece dari lawan. Gol yang diciptakan oleh Austin juga berasal dari kesulitan para pemain MU dalam menghadapi set piece. Ia sama sekali tak mendapatkan pengawalan dari para pemain MU sehingga dengan mudahnya bisa menjeblos gawang lewat sundulan.

Lapangan tengah MU nampak hambar dan monoton. Barisan sayap yang seharusnya bisa membangun koordinasi yang baik tak bisa diharapkan. Parahnya lagi, bagian tengah lapangan juga tak bisa mencapai hasil yang lebih bagus. Fellani sama sekali tak bisa diandalkan dalam pertandingan tersebut. Ia pun akhirnya cuma dimainkan selama satu babak dan digantikan oleh Juan Mata. Masuknya Mata di lapangan tengah sebenarnya memberikan perubahan yang cukup berarti. Tapi duet antara Rooney dan Martial tak bisa mengimbangi pergerakannya. Mereka berdua lebih sering ikut mundur ke belakang sehingga menyulitkan eksplorasi serangan.

Faktor terakhir tentu saja adalah peran Van Gaal. Nampak bahwa sebagian besar pendukung MU sangat marah ketika pertandingan usai. Lambaian tangan Van Gaal dicueki dan sama sekali tak menggubris sang manajer. Memang, MU sangat nampak hati-hati selama melawan Southampton. Beberapa pemain penting seperti Depay dan Pereira justru dicadangkan. Formasi yang terlalu kaku dan melebar itu pun tak segera diubah meski sudah nampak gagal di babak pertama. Kini, tinggal menunggu nasib Van Gaal yang semakin berada di ujung tanduk dengan prestasi memburuk MU sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *